Fridolin Ukur: Menjawab Tantangan Suku Dayak

Fridolin Ukur, Dayak, pendeta, penyair, sastrawan, Tantang-Jawab Suku Dayak, Kristen

  • Fridolin Ukur
Tak syak lagi. Pendeta berpeci hitam ini salah satu tokoh penting literasi Dsayak. 

Tantang-Jawab Suku Dayak: Suatu Penelusuran Mengenai Penolakan dan Penerimaan Injil dalam Sejarah Gereja di Kalimantan (1835-1945) judul disertasi Ukur.

Disertasi ini mengangkat cerita mengenai bagaimana Suku Dayak di Kalimantan menjalani perjalanan yang menarik dalam penolakan dan penerimaan ajaran Injil selama periode sejarah dari 1835 hingga 1945. Sebagai bagian dari sejarah Gereja di Kalimantan, perjalanan yang menjadi kilas balik sejarah Dayak ini melibatkan berbagai elemen yang mempengaruhi perubahan sosial dan keagamaan dalam komunitas Suku Dayak.
Baca Literasi Dayak

Ukur membawa kita ke dalam latar belakang sejarah dan geografis Kalimantan pada masa itu. Saat misionaris Belanda pertama kali tiba di daerah ini, mereka membawa pesan Injil yang menjadi fokus perhatian. Pertanyaan utama yang muncul adalah bagaimana Suku Dayak merespons pesan Kristen yang baru ini dan bagaimana peran misionaris dalam menyebarkannya.

Pak pendeta juga mendalami awal mula misi Kristen di Kalimantan. Kedatangan misionaris Belanda, upaya awal mereka dalam mengkomunikasikan pesan Injil, serta tantangan dan hambatan yang mereka hadapi menjadi bahasan.

Untuk memahami respon Suku Dayak terhadap Injil, bab ketiga menjelajahi budaya dan kepercayaan tradisional mereka. Kita menemukan bahwa elemen-elemen lokal ini memengaruhi bagaimana Suku Dayak melihat dan merespons ajaran Kristen yang baru.

Kemudan Ukur menyoroti penolakan awal terhadap Injil dan perlawanan yang muncul di kalangan Suku Dayak. Faktor-faktor seperti ketidakpahaman terhadap agama baru atau kekhawatiran terhadap perubahan sosial menjadi faktor utama yang memengaruhi sikap mereka.

Namun, perjalanan ini tidak hanya tentang penolakan. Ukur mengulas penerimaan Injil dan transformasi keagamaan yang terjadi dalam komunitas Suku Dayak. Perubahan ini tidak hanya terjadi secara tiba-tiba; ada faktor-faktor yang memfasilitasi penerimaan Injil, dan peran misionaris sangat penting dalam proses ini.

Dipaparkannya dampak sosial dan kultural dari penerimaan Injil dalam kehidupan sehari-hari Suku Dayak. Kita melihat bagaimana agama Kristen membentuk tatanan sosial dan adat istiadat mereka.

Periode sejarah pasca-1945 menjadi pusat perhatian dalam bab tujuh. Disertasi ini menganalisis perubahan dalam respons Suku Dayak terhadap Injil selama periode ini, sekaligus menyoroti faktor-faktor eksternal yang memengaruhi dinamika tersebut, seperti perang dunia dan kemerdekaan Indonesia.

Sebagai karya ilmiah, penulis membahas implikasi historis, sosial, dan agama dari perjalanan penolakan dan penerimaan Injil di kalangan Suku Dayak selama periode 1835-1945.

Buku ini memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana agama Kristen memengaruhi dan direspons oleh Suku Dayak, serta bagaimana hal ini memengaruhi sejarah Gereja di Kalimantan.

Dr. Fridolin Ukur, lahir pada tanggal 5 April 1930 dan meninggal pada tanggal 26 Juni 2003, adalah seorang pendeta dan penulis berkebangsaan Indonesia yang memiliki perjalanan karier yang luar biasa.
Baca Dayak Menulis Dari Dalam

Pendidikan adalah bagian penting dari perjalanan Fridolin. Pada tahun 1955, ia berhasil meraih gelar Sarjana Teologi (S.Th.) dari Hoogere Theologische School, yang kini dikenal sebagai STT Jakarta. 

Tidak puas dengan pencapaian tersebut, pada tahun 1962, Fridolin meraih gelar Magister Teologi (M.Th.) dari fakultas yang sama. Namun, keingintahuan dan dorongannya untuk mendalami pengetahuannya membawanya jauh ke luar negeri. Pada tahun 1964-1965, ia berkesempatan untuk memperdalam pengetahuannya di Fakultas Teologi, Universitas Basel, di Swiss.

Selain Tantang-Jawab Suku Dayak, Ukur juga mendapatkan pengakuan dan penerimaan di dunia tulis-menulis melalui publikasi di berbagai majalah, termasuk Ut Omnes Unum Sint, National-Zeitung Basel, Baslert Nachrichten, La vie Protestan, dan Zurichsee Zeitung.

Puncak dari perjalanan pendidikannya adalah saat Fridolin berhasil meraih gelar doktor pada hari Senin, 20 Desember 1971. Ia berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul "Tantang Jawab Suku Dayak". Ini adalah pencapaian besar dalam karier akademisnya.

Selain dari karier akademisnya, Fridolin juga memiliki peran sebagai pendeta. Pada tahun 1956, ia ditahbiskan sebagai seorang pendeta, yang menggabungkan perannya sebagai seorang cendekiawan dengan panggilan rohani.

Tidak hanya sebagai pendeta dan akademisi, Ukur juga merupakan seorang penulis yang produktif. Ukur telah menerbitkan berbagai karya, termasuk kumpulan puisi seperti "Malam Sunyi," "Darah dan Keringat," dan "Belas Tergubang." Selain itu, ia juga menulis "Iklan dari Surga," sebuah kumpulan renungan, serta "Wajah Cinta," kumpulan puisi yang diterbitkan pada tahun 2001.
Baca artikel terkait Sastrawan Dayak

Kesungguhan Fridolin dalam menantang persoalan-persoalan suku Dayak dan menjalani perjuangan untuk meningkatkan pemahaman akan budaya dan kehidupan mereka terlihat dalam karya-karyanya. Ia juga dikenal sebagai seorang penulis yang menciptakan karya-karya yang menginspirasi.

Selain itu, Fridolin juga mendapatkan pengakuan dan penerimaan di dunia tulis-menulis melalui publikasi di berbagai majalah, termasuk Ut Omnes Unum Sint, National-Zeitung Basel, Baslert Nachrichten, La vie Protestan, dan Zurichsee Zeitung.

Dr. Fridolin Ukur adalah sosok yang menggabungkan bakat akademis, semangat pendeta, dan kepekaan penulis dalam satu perjalanan hidup yang penuh dedikasi. 

Karya-karya Ukur baik dalam bentuk tulisan maupun pelayanannya, terus menginspirasi orang-orang dalam memahami dan menghormati keberagaman budaya di Indonesia.*)

LihatTutupKomentar