Cornelis dan Masri: Dua Pelaku Literasi Dayak Menulis Buku Eksploitasi Dayak Masa ke Masa

Cornelis dan Masri: Dua Sosok Bahas Buku dan Literasi Dayak
Dr. HC. Cornelis dan Masri Sareb Putra menulis dan merilis bersama buku Eksploitasi Dayak Masa ke Masa. yang menggugat sekaligus menyentak. Ist.

Dayak hari ini, ketika bertemu, tidak lagi semata-mata bicara soal makan dan minum. Tapi juga soal nilai, kehormatan, harga diri, buku, dan literasi Dayak.

Dayak hari ini, ketika saling berjumpa, tidak lagi cukup bercakap tentang makan dan minum. 

Percakapan itu memang masih membuka diri lewat hal-hal paling manusiawi, secangkir kopi, sepotong ubi, sebaris tanya tentang kesehatan. Namun di balik kesahajaan itu, ada kegelisahan yang ikut duduk di antara mereka. Kata-kata pelan membawa pesan inti nilai, kehormatan, dan harga diri, seakan setiap perjumpaan adalah upaya merawat martabat yang rapuh di hadapan zaman.

Obrolan pun perlahan berubah arah. Dari kabar keluarga, panen yang berhasil atau gagal, hujan yang terlambat turun, hingga cerita perjalanan, lalu tiba-tiba ada jeda yang sunyi. Di situlah percakapan berbelok. 

Nada suara menurun, mata menatap lebih dalam. Yang dibicarakan bukan lagi sekadar hidup, melainkan makna hidup itu sendiri, hak atas tanah, hutan yang menua bersama doa, dan posisi Dayak yang kerap terdesak di pusaran politik serta ekonomi yang tak selalu ramah.

Dalam belokan itulah buku dan literasi menemukan tempatnya. Bukan sebagai benda mati, melainkan sebagai ikhtiar mengingat, menulis, dan menjaga diri agar tidak lenyap ditelan arus. Literasi Dayak menjadi cara baru untuk berdiri tegak, menyulam ingatan leluhur dengan bahasa zaman. Di sana, kata-kata bukan hiasan, melainkan perlawanan yang halus, doa yang dituliskan, dan harapan agar Dayak tetap menjadi tuan yang bermartabat di tanahnya sendiri.

Pentingnya literasi Dayak

Kesadaran itu tumbuh perlahan. Ia tidak datang dari buku tebal semata, tetapi dari pengalaman hidup yang berulang. Dari tanah yang menyempit. Dari hutan yang tak lagi sama. Dari janji yang datang dan pergi. 

Dayak mulai paham bahwa soal bertahan hidup tidak hanya urusan perut, tetapi juga urusan cerita. Siapa yang bercerita, dari sudut mana cerita disampaikan, dan untuk kepentingan siapa.

Baca Literasi Dayak Berawal dari Rumah Panjang

Ruang publik menjadi medan baru. Di sanalah kata-kata bekerja. Di sanalah citra dibentuk. Di sanalah suatu kelompok bisa tampak sebagai subjek yang berpikir, atau sekadar objek yang dibicarakan. Memenangkan narasi di ruang publik bukan soal ingin terlihat hebat, tetapi soal tidak ingin terus disalahpahami, dipinggirkan, atau dilupakan.

Di titik ini, politik tidak selalu berarti partai atau jabatan. Politik hadir dalam bahasa, dalam istilah, dalam cara suatu peristiwa dijelaskan. Ketika Dayak berbicara tentang haknya sendiri, itulah politik praktis dalam bentuk yang paling mendasar.

Percakapan di Kelapa Gading

Gagasan itu mengemuka dengan jernih dalam diskusi intens di Kelapa Gading, Sabtu 31 Januari 2026. Dr. HC. Cornelis menyampaikannya dengan nada tenang, tanpa retorika berlebihan. Ia berbicara sebagai orang yang lama berkecimpung dalam dunia politik, tetapi juga lama menyimak denyut kegelisahan masyarakat Dayak.

Baca Literasi Dayak : Dayak Perlu Menulis "Dari dalam"

Di hadapannya duduk Masri Sareb Putra, pegiat literasi nasional, yang memilih jalan berbeda. Masri lebih sering bekerja di belakang layar, mengumpulkan arsip, menulis, mencatat, dan merawat ingatan. Pertemuan dua sosok lintas profesi ini bukan pertemuan basa-basi. Ia adalah perjumpaan pengalaman dan refleksi.

Cornelis menegaskan bahwa Dayak tidak boleh terus hadir di ruang publik hanya sebagai latar belakang. Tidak cukup sekadar disebut dalam pidato atau ditampilkan dalam seremoni. Dayak harus hadir dengan pikiran, dengan argumen, dengan data, dan dengan narasi yang disusun sendiri.

Masri menimpali dari sudut yang lain. Literasi adalah kunci. Tanpa literasi, suara Dayak mudah dipelintir. Tanpa literasi, pengalaman kolektif mudah dihapus. Menulis, bagi Dayak, bukan kemewahan. Ia kebutuhan. Ia cara untuk tetap waras di tengah derasnya cerita yang sering kali tidak berpihak.

Buku sebagai Upaya Mengingat

Dari perjumpaan dan kesadaran itulah lahir buku bersama berjudul Eksploitasi Dayak Masa ke Masa

Buku dengan bilangan halaman xxvi +240 yang diterbitkan Lembaga Literasi Dayak bulan Januari 2026 ini tidak ditulis untuk menyulut amarah. Ia juga tidak ditujukan untuk memupuk rasa korban. Buku ini ditulis untuk mengingat, dan mengajak pembaca mengingat dengan jujur.

Eksploitasi Dayak tidak pernah hadir dalam satu wajah. 

Pada masa lalu, ia datang dengan kekerasan yang kasatmata. Pada masa berikutnya, ia tampil lebih halus, lebih administratif, lebih rapi. Tetapi substansinya tetap sama. Pengambilan ruang hidup dengan alasan yang selalu terdengar masuk akal.

Baca Dayak dalam Narasi Penulis dan Antropolog Tempo Doeloe

Buku ini menyajikan data dan fakta tentang bagaimana Dayak berulang kali menjadi pihak yang harus menyesuaikan diri. Atas nama pembangunan, atas nama kemajuan, atas nama kepentingan yang katanya lebih besar. Dalam banyak kasus, Dayak diminta mengalah, lalu diminta bersyukur.

Yang menarik, eksploitasi sering dibungkus dengan pujian. Dayak disebut penjaga hutan, pemilik kearifan lokal, masyarakat adat yang arif. Tetapi ketika tiba saat menentukan arah, suara Dayak justru diletakkan di pinggir. 

Buku yang dianjurkan sebagai referensi akademis ini membuka kontradiksi itu dengan bahasa yang jernih dan contoh yang konkret.

Literasi sebagai Bentuk Keberanian

Dalam diskusi itu, literasi tidak dipahami sebagai kemampuan teknis semata. Literasi adalah keberanian untuk melihat masa lalu tanpa menutup mata. Keberanian untuk menyebut sesuatu dengan namanya. Keberanian untuk menolak lupa.

Masri menekankan bahwa terlalu lama sejarah Dayak ditulis dari luar. Ditulis dengan kacamata kolonial, administratif, atau ekonomistik. Akibatnya, Dayak sering tampil sebagai angka, peta, atau komoditas. Bukan sebagai manusia dengan ingatan, luka, dan harapan.

Menulis sejarah sendiri bukan berarti menolak kritik. Justru sebaliknya. Ia membuka ruang dialog yang lebih jujur. Sejarah yang ditulis dari dalam akan lebih peka terhadap detail kecil yang sering dianggap sepele, tetapi sesungguhnya menentukan.

Cornelis menambahkan bahwa tanpa literasi, perjuangan mudah terjebak dalam reaksi sesaat. Marah hari ini, lupa besok. Padahal yang dibutuhkan adalah kerja panjang. Kerja yang mungkin tidak langsung terlihat hasilnya, tetapi membentuk fondasi berpikir generasi berikutnya.

Agar Sejarah Tidak Datang Lagi sebagai Hukuman

Ada satu kalimat yang mengikat seluruh diskusi itu, historia docet. Sejarah mengajar. Tetapi sejarah hanya mengajar mereka yang mau belajar. Bagi yang enggan belajar, sejarah tidak datang sebagai guru, melainkan sebagai hukuman yang berulang.

Baca Pemetaan Penulis Dayak dan Buku Ber-ISBN

Bagi Dayak, membaca sejarah eksploitasi bukan untuk membuka luka lama tanpa tujuan. Ia untuk mengenali pola. Agar kesalahan yang sama tidak terus terulang dengan wajah yang berbeda. Agar janji-janji baru tidak kembali meninabobokkan kewaspadaan.

Memenangkan narasi bukan soal ingin selalu benar. Ia soal memastikan bahwa pengalaman Dayak tidak lagi dihapus atau diperkecil. Bahwa ketika kebijakan dibuat, ada ingatan kolektif yang ikut berbicara. Bahwa ketika pembangunan dirancang, ada sejarah yang ikut dipertimbangkan.

Buku, tulisan, diskusi, dan arsip mungkin tampak sederhana. Tetapi di sanalah arah masa depan pelan-pelan dibentuk. Tidak dengan teriakan, tetapi dengan ketekunan. Tidak dengan amarah semata, tetapi dengan kejernihan.

Jika sejarah benar-benar mengajar, maka tugas Dayak hari ini adalah mendengarkan dengan sungguh-sungguh. 

Dayak wajib belajar dari masa lalu, hidup sadar di masa kini. Dan menyiapkan hari esok agar sejarah tidak perlu datang lagi sebagai hukuman.

Penulis: Rangkaya Bada

0 Komentar

Type above and press Enter to search.