Prof. Izak Y. M. Lattu Memberi Wawasan dan Literasi Lingkungan bagi Orang Dayak

Prof. Izak Y. M. Lattu (kanan pembaca): Dayak bisa hidup tanpa sawit, tetapi Dayak tidak bisa hidup tanpa sungai dan hutan.
Prof. Izak Y. M. Lattu (kanan pembaca): Dayak bisa hidup tanpa sawit, tetapi Dayak tidak bisa hidup tanpa sungai dan hutan. Kredit gambar: Fb Uli Simamora.

DPalangka Raya, teologi tidak lagi melayang. Ia turun ke tanah. Ia hadir bukan sebagai teori. Tetapi sebagai cerita. Sebagai luka. Sebagai ingatan panjang orang Dayak. Seminar nasional itu menjadi ruang dengar. Bukan ruang menggurui. Teologi belajar mendengar hutan. Belajar membaca sungai.

Prof. Izak Y. M. Lattu berbicara pelan. Tetapi kata-katanya menghunjam. Orang Dayak bisa hidup tanpa sawit. Tetapi tidak bisa hidup tanpa hutan dan sungai. 

Kalimat itu sederhana. Singkat sekali. Tapi bernas. Kata bekerja yang lahir dari pengalaman hidup. Bukan dari meja rapat. Bukan dari peta konsesi.

Adagium itu disampaikan Prof. Lattu dalam Seminar Nasional bertajuk Anti-Deforestation Theology: Ecotheology, Decoloniality, and Intersectionality yang digelar di Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Palangka Raya, Rabu (5/2/2026). Sesi 3 Seminar Nasional Pascasarjana IAKN Palangka Raya dimoteratori "orang dalam", dosen IAKN, Uli Simamora.

Hutan dan Sungai sebagai Tubuh Kehidupan

Bagi orang Dayak, hutan bukan objek. Sungai bukan fasilitas. Keduanya adalah tubuh kehidupan. Tempat belajar batas. Tempat belajar cukup. Tempat manusia tahu diri. Dari sanalah nilai hidup diwariskan. Bukan lewat buku. Tetapi lewat laku. Lewat cerita. Lewat ritus.

Ketika hutan ditebang. Ketika sungai dikotori. Yang rusak bukan hanya alam. Tetapi pengetahuan. Identitas. Dan masa depan. Orang Dayak kehilangan ruang belajar. Kehilangan cermin hidup. Kehilangan arah pulang.

Deforestasi sebagai dosa bersama

Dalam seminar itu ditegaskan. Deforestasi bukan netral. Ia adalah persoalan moral. Persoalan iman. Kerusakan ekologis dibaca sebagai dosa kolektif. Bukan dosa pribadi. Tetapi dosa sistem. Dosa cara hidup. Dosa pembangunan yang lupa akar.

Bahasa ini sesungguhnya akrab bagi orang Dayak. Sejak lama mereka tahu. Jika alam dilukai. Hidup menjadi timpang. Relasi rusak. Leluhur gelisah. Manusia kehilangan keseimbangan. Dunia tidak lagi tenang.

Karena itu pertobatan tidak cukup sendiri-sendiri. Tidak cukup simbolik. Tidak cukup doa tanpa sikap. Yang dibutuhkan adalah perubahan bersama. Perubahan cara berpikir. Cara membangun. Cara memandang tanah dan hutan. Pertobatan sosial. Pertobatan struktural.

Iman yang berakar dan berpihak, literasi menjadi jembatan

Teologi Kristen tidak boleh diam. Diam berarti ikut merusak. Diam berarti membiarkan iman tercerabut dari bumi. Prof. Lattu menegaskan itu. Gereja dipanggil bersuara. Kampus dipanggil berpihak. Teologi harus berani kotor. Berani turun ke sungai yang keruh.

Di sinilah dekolonialitas menemukan maknanya. Teologi tidak lagi datang dari luar. Tidak lagi memaksakan bahasa. Ia belajar dari kampung. Dari ladang. Dari tembawang. Orang Dayak tidak ditempatkan sebagai objek. Mereka adalah subjek. Penjaga kehidupan. Pemilik pengetahuan.

Literasi menjadi jembatan. Agar orang Dayak membaca ulang pengalamannya sendiri. Dengan bahasa iman. Dengan kesadaran kritis. Agar mereka tahu. Kerusakan ini bukan takdir. Tetapi pilihan manusia. Dan pilihan itu bisa ditolak.

Menjaga hutan menjadi tindakan iman. Menjaga sungai menjadi ibadah. Melawan deforestasi menjadi panggilan rohani. Menjadi Dayak. Menjadi Kristen. Keduanya bertemu. Saling menguatkan. Tidak saling meniadakan.

Di Palangka Raya, teologi menemukan tubuhnya kembali. Ia bernafas bersama hutan. Mengalir bersama sungai. Berdiri bersama orang Dayak. Iman yang hidup selalu berakar.

 Dan iman yang berakar selalu berpihak pada kehidupan.

0 Komentar

Type above and press Enter to search.