Dayak "Menulis dari Dalam", Dayak Mengendalikan Pusat Ceritanya

 

Dayak "Menulis dari Dalam"
Dayak "menulis dari dalam" selain mengendalikan pusat cerita dirinya, juga mengimbangi narasi kolonial yang nir-pengalaman. Ist.

Oleh Rangkaya Bada

Sejarah tidak pernah lahir di ruang hampa. Sejarah selalu ditulis dari suatu tempat, dari sudut pandang tertentu, dari jarak tertentu terhadap kehidupan yang diceritakan. Karena itu, orang Dayak perlu menulis "dari dalam" untuk mengembalikan pusat ceritanya.

Selama berabad-abad, kisah tentang Dayak ditulis dari jarak itu. Jarak yang jauh. Jarak yang dingin. Jarak yang tidak menjalani.

Orang Dayak hidup di pusat kehidupannya sendiri. Mereka menanam dan memanen. Mendirikan rumah panjang. Menjaga hutan sebagai ruang hidup bersama, bukan sekadar sumber kayu. 

Dayak merawat adat sebagai sistem etika, bukan sebagai sisa masa lalu. Namun ironi sejarah terjadi: cerita tentang mereka justru lahir di luar. Di meja tulis penjelajah. Di laporan kolonial. Di buku-buku yang lebih mengenal Dayak sebagai objek daripada sebagai manusia yang berpikir.

Tulisan di Literasi Dayak berdiri untuk membalik keadaan itu. Bukan sekadar mengoreksi satu kesalahan lama, tetapi menggeser posisi menulis itu sendiri. Menulis dari dalam ditegaskan sebagai kebutuhan sejarah, bukan pilihan gaya.

Tulisan-tulisan tentang Dayak "dari dalam"

Tulisan-tulisan tentang Dayak yang lahir dari luar hampir selalu bergerak di permukaan. Yang dicatat adalah apa yang tampak, bukan apa yang dialami. Yang ditonjolkan adalah keanehan, bukan keteraturan hidup. Dari luar, Dayak mudah disederhanakan. Mudah diberi label. Mudah dibingkai.

Tengkorak dilihat, tetapi duka dan makna ritual diabaikan.

Tato dicatat, tetapi perjalanan hidup yang terukir di tubuh tidak dibaca.

Hutan digambarkan, tetapi relasi batin yang menjadikannya ibu kehidupan tidak dirasakan.

Pengetahuan yang lahir dari jarak memang tampak rapi, sistematis, dan meyakinkan. Namun ia kehilangan sesuatu yang paling mendasar: pengalaman. 

Kebudayaan tidak pernah sepenuhnya bisa dipahami tanpa hidup di dalamnya. Karena itu, narasi lama tentang Dayak sering terdengar pasti, tetapi miskin pengertian.

Menulis dari dalam, menulis dengan ingatan yang hidup

Menulis dari dalam berarti menulis dengan ingatan yang bernafas. Bukan ingatan arsip, melainkan ingatan yang hidup di bahasa, tubuh, dan kebiasaan. Orang Dayak yang menulis dari dalam tidak sedang mengumpulkan data. Mereka sedang merawat warisan.

Adat tidak diperlakukan sebagai artefak mati, melainkan sebagai sistem nilai yang bekerja dalam keseharian. Sejarah tidak dipandang sebagai garis lurus, tetapi sebagai lapisan pengalaman yang saling bertaut. Luka diakui tanpa disangkal, kebijaksanaan dirawat tanpa dimitoskan.

Tulisan dari dalam tidak tergesa menyimpulkan. Ia memberi konteks. Ia memahami mengapa sesuatu terjadi, bukan hanya apa yang terjadi. Ia membaca makna sebelum menyebut istilah. 

Di sinilah perbedaan mendasarnya: tulisan dari dalam tidak menjadikan Dayak sebagai contoh, tetapi sebagai subjek penuh dari ceritanya sendiri.

Ketika Dayak Menulis, Pusat Pengetahuan Bergeser

Perubahan paling penting hari ini bukan terletak pada tema, melainkan pada posisi. Untuk waktu yang lama, pusat pengetahuan tentang Dayak berada di luar Dayak. Di Eropa. Di arsip kolonial. Di perpustakaan yang jauh dari sungai dan hutan tempat Dayak hidup.

Kini, pusat itu bergerak.

Ketika orang Dayak menulis dari dalam, mereka tidak lagi menunggu dibicarakan. Mereka berbicara. Mereka tidak lagi hadir sebagai masyarakat yang diteliti, tetapi sebagai komunitas yang berpikir, menilai, dan menentukan arah masa depannya sendiri.

Pergeseran ini mengubah cara memahami Dayak secara mendasar. Mereka tidak lagi tampil sebagai masyarakat masa lalu, tetapi sebagai manusia yang hidup dalam perubahan. 

Menulis dari dalam membuat Dayak hadir sebagai subjek yang utuh: mampu mengkritik diri sendiri, menafsirkan sejarahnya, dan merumuskan masa depannya.

Dayak "menulis dari dalam sebagai tindakan "mgayau" dengan kata

Menulis dari dalam bukan jalan yang mudah. Ia berhadapan dengan narasi lama yang telah lama dianggap mapan. Dengan buku-buku yang sudah terlanjur dipercaya sebagai kebenaran. Dengan cara pandang yang terbentuk selama ratusan tahun.

Namun keberanian tidak selalu berbentuk perlawanan keras. Ia sering hadir sebagai ketekunan. Sebagai konsistensi. Sebagai kesediaan berdiri di pusat kehidupan sendiri tanpa rasa rendah diri.

Tulisan Literasi Dayak bergerak di jalur itu. Ia tidak memohon pengakuan. Ia tidak meminta izin. Ia menulis karena hak itu memang milik mereka yang menjalani kehidupan itu sendiri.

Menulis dari dalam adalah bentuk kedaulatan pengetahuan. Menulis dan publikasi memastikan bahwa Dayak tidak lagi didefinisikan oleh jarak, tetapi oleh pengalaman.

Dari dalam, cerita menemukan rumahnya

Selama Dayak ditulis dari luar, mereka akan selalu tampak asing di tanahnya sendiri. Tetapi ketika Dayak menulis dari dalam, cerita itu pulang. Menemukan rumahnya.

Menulis dari dalam bukan nostalgia, bukan romantisasi. Menulis dan publikasi adalah syarat keadilan dalam pengetahuan. Ia memastikan bahwa masa depan tidak lagi dibangun di atas kesalahpahaman lama.

Dayak menulis dari dalam bukan untuk menutup diri dari dunia, melainkan untuk berdiri utuh di hadapannya.

Jakarta, 07 Februari 2026

0 Komentar

Type above and press Enter to search.