Buku oleh Penulis dan Penerbit Dayak Mendapat Apresiasi Perpustakaan Nasional
Buku ini meraih peringkat ke-4 terbaik kategori ketahanan pangan tingkat nasional, sebuah pengakuan penting di level Indonesia, bukan sekadar provinsi.Ist.
Literasi Dayak: Orang Dayak hari ini tidak lagi berdiri sebagai latar belakang cerita. Mereka tampil ke depan, menata, menyusun, dan menuliskan kisahnya sendiri dari tanah, ingatan, dan pergulatan hidup yang nyata.
Masa ketika narasi Dayak sepenuhnya ditulis oleh pihak luar perlahan ditinggalkan. Kini, pena itu berpindah tangan, berada di tangan orang Dayak sendiri.
Perubahan ini bukan sekadar simbolik, melainkan nyata dalam dunia literasi nasional. Perubahan ke arah yang semakin baik itu menandai kebangkitan kesadaran bahwa identitas, pengetahuan, dan pengalaman Dayak harus disuarakan dari dalam, bukan ditafsirkan dari luar.
Lembaga Literasi Dayak dan Jalan Panjang Pengakuan
Salah satu penanda penting dari pergeseran ini adalah kehadiran Penerbit Lembaga Literasi Dayak (LLD). Didirikan oleh Masri Sareb Putra bersama Dr. Herkulana Merkarryani pada November 2015, LLD menumbuhkan ekosistem kepenulisan yang berakar kuat pada pengalaman dan kebijaksanaan Dayak.
Kerja panjang tersebut menemukan momentumnya ketika pada 18 September 2024. Salah satu buku terbitan LLD terpilih sebagai karya unggulan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
Capaian ini menunjukkan bahwa karya yang lahir dari akar lokal mampu bersaing di panggung nasional.
Ketahanan Pangan dan Suara Intelektual Dayak
Sorotan khusus tertuju pada karya Dr. Harin Tiawon, S.E., M.P., dosen Universitas Palangka Raya, berjudul Strategi Ketahanan Pangan Utama Indonesia pada Era Liberalisasi Perdagangan.
Buku ini meraih posisi ke-4 terbaik dalam kategori ketahanan pangan. Se-Indonesia, bukan hanya seprovinsi. Jelas ini suatu pengakuan.
Dalam karyanya, Harin mengulas tantangan serius yang dihadapi Indonesia. Permintaan pangan tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan penyediaan nasional.
Faktor pertumbuhan penduduk, perkembangan ekonomi, dan perubahan pola konsumsi masyarakat saling berkelindan, sementara kapasitas produksi pangan nasional bergerak lambat dan bahkan stagnan akibat berbagai kendala struktural.
“Tantangan ini harus kita hadapi bersama,” ujarnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa ketahanan pangan bukan sekadar isu teknis, melainkan persoalan kolektif yang menuntut keberanian berpikir dan kebijakan jangka panjang.
Literasi sebagai Martabat dan Jalan Pulang
Malam penganugerahan yang berlangsung di Gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, menjadi saksi pengakuan tersebut.
“Puji Tuhan, buku hasil penelitian saya akhirnya mendapatkan penghargaan,” ungkap Harin dengan penuh syukur.
Bagi Harin, ini bukan sekadar prestasi pribadi, tetapi juga pengakuan terhadap kapasitas intelektual orang Dayak.
“Ini menjadi kebanggaan karena mencerminkan pengakuan nasional terhadap karya olo itah, orang Dayak,” ungkap istri Rawing Rambang. Literasi adalah bagian dari perjuangan martabat.
Kini, Lembaga Literasi Dayak semakin mengukuhkan diri sebagai salah satu pilar penting literasi Indonesia.
Selain Masri Sareb Putra dan Dr. Herkulana Merkarryani, LLD didukung oleh para munsyi, sastrawan, pakar, dan cendekiawan Dayak seperti Liu Ban Fo (Munaldus), Prof. Suriansyah Murhaini, Dr. Mugeni, Dr. Petrus Gunarso, Dr. Ir. Rawing Rambang, Heru Susanto, M.Th., Paran Sakiu, M.Pd., Dr. Wilson anak Ayub, serta Dr. Patricia anak Ganing dari Malaysia.
Di tangan mereka, literasi bukan sekadar kegiatan menulis. Tetapi juga sekaligus merupakan "jalan pulang."
Literasi Dayak merawat ingatan. Literasi meneguhkan martabat, dan memastikan suara Dayak berdiri setara dalam ruang kebangsaan.
Penulis: Hertanto Torunas Moncas
0 Komentar