Breakthrough Rapid Reading: Membaca Cepat dengan Sekurangnya 70% Memahami Teks
| Buku pemandu Membaca Cepat dengan lebih 70% memahami apa yang dibaca. Istimewa. |
Oleh Masri Sareb Putra
Membaca Cepat dengan Lebih 70% memahami apa yang dibaca. Mungkinkah? Mungkin saja. Breakthrough Rapid Reading membantu. Sekaligus memandu Anda!
Buku Breakthrough Rapid Reading karya Peter Kump bukan sekadar buku teknik. Ia adalah peta. Ia menyusun ulang cara kita berelasi dengan teks.
Kump tidak memulai dari mata, melainkan dari pikiran. Dari asumsi dasar bahwa kebanyakan orang membaca jauh di bawah kapasitas alaminya, karena dibebani kebiasaan lama yang tidak efisien.
Kecepatan membaca dapat dipelajari
Inti buku ini sederhana tapi radikal. Kecepatan membaca bukan masalah bakat, melainkan kebiasaan.
Mata manusia mampu menangkap lebih banyak kata sekaligus, tetapi kita dilatih membaca kata demi kata, seolah-olah teks adalah antrean yang harus dilewati satu per satu.
Peter Kump mengajak pembaca memutus kebiasaan itu. Mengurangi regresi mata. Menghentikan subvokalisasi. Melatih pandangan periferal.
Tujuan membaca
Peter Kump juga menekankan pentingnya tujuan membaca. Kita tidak membaca semua teks dengan cara yang sama. Ada bacaan untuk dipelajari mendalam. Ada bacaan untuk dipahami secara umum. Ada bacaan untuk disaring.
Buku ini mengajarkan teknik membaca berlapis. Mulai dari preview, skimming, hingga analytical reading. Semuanya disesuaikan dengan kebutuhan.
Yang paling penting, Peter Kump menegaskan bahwa membaca cepat tidak identik dengan pemahaman dangkal. Justru sebaliknya. Dengan teknik yang tepat, pemahaman bisa meningkat karena pikiran tidak lagi terseret oleh detail remeh. Fokus berpindah pada ide utama. Argumen sentral. Struktur berpikir penulis.
Buku ini juga sarat latihan praktis. Bukan teori kosong. Pembaca diajak melatih mata, melatih konsentrasi, melatih disiplin waktu.
Dalam konteks saya sebagai penerjemah, buku ini menjadi semacam manual kerja. Ia membantu saya membaca teks kompleks dengan lebih efisien, tanpa mengorbankan akurasi makna.
Dari Ruang Kelas S-3 hingga Etika Membaca
Di jenjang S-3, teknik membaca cepat selalu diajarkan. Termasuk teknik “membaca teks”. Itu menjadi bagian dari metodologi akademik. Bagaimana mengekstrak argumen. Bagaimana memetakan literatur. Bagaimana membaca secara kritis. Namun bagi saya, fase itu lebih merupakan penguatan. Bukan permulaan.
Keterampilan membaca cepat sudah saya peroleh jauh sebelum itu. Bahkan sempat diuji secara formal.
Membaca cepat dengan pemahaman minimal 70 persen perlu di program doktor karena doktoral bukan sekadar membaca. Ia berdialog dengan pengetahuan.
Di level ini, teks bukan untuk dihafal, melainkan untuk dibedah, ditimbang, lalu ditantang. Tanpa kecepatan, pikiran terseret oleh halaman. Tanpa pemahaman, kecepatan menjadi kosong. Angka 70 persen adalah ambang rasional: cukup untuk menangkap struktur argumen, kerangka teori, dan posisi epistemologis penulis. Sisanya adalah ruang kreativitas doktoral.
Program doktor hidup dalam banjir teks. Jurnal. Disertasi. Arsip. Catatan lapangan. Teori lama. Teori yang saling membantah. Seorang doktor yang membaca lambat akan tenggelam sebelum sempat berpikir. Membaca cepat dengan pemahaman memadai adalah alat bertahan hidup intelektual. Ia memungkinkan seleksi. Mana penting. Mana sekadar pengulangan. Mana harus diselami. Mana cukup dilalui.
Lebih jauh, membaca cepat melatih meta-kognisi. Doktor tidak membaca kata demi kata. Ia membaca pola. Ia menangkap logika sebelum detail. Ia mengenali bias penulis sebelum kesimpulan. Pemahaman 70 persen bukan kekurangan, melainkan strategi: memahami keseluruhan lebih dulu, lalu turun ke kedalaman yang benar-benar relevan dengan risetnya.
Pada galibnya, doktor bukan diukur dari banyaknya bacaan yang diselesaikan, tetapi dari ketepatan bacaan yang dipilih. Membaca cepat dengan pemahaman minimal 70 persen adalah teknologi mental untuk itu. Tanpanya, disertasi menjadi kerja keras yang lamban. Dengannya, disertasi berubah menjadi lompatan intelektual.
Tugas menerjemahkan buku ini
Pada tahun 2008, saya diminta untuk menerjemahkan buku ini untuk PT Indeks, yang merupakan salah satu anak perusahaan Kompas-Gramedia.
Tugas menerjemahkan buku oleh Anton Adisastra, salah seorang owner PT Indeks, memberi saya kesempatan untuk mempelajari teknik membaca cepat atau rapid reading, yang memang menjadi salah satu keahlian yang saya asah secara serius. Dengan teknik ini, saya bisa membaca dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi dari biasanya, namun tetap mampu memahami inti dari bacaan tersebut dengan tingkat pemahaman minimal 75%.
Saya sering menggunakan metode skimming ala Eveline Wood untuk memindai teks dengan cepat, mencari gagasan pokok atau kata kunci yang menjadi titik fokus dari setiap bab. Dengan cara ini, saya tidak hanya bisa memaksimalkan waktu, tetapi juga mendapatkan gambaran keseluruhan dari buku tersebut tanpa terjebak dalam detail yang tidak penting.
Meskipun demikian, saya selalu berusaha menjaga kualitas pemahaman. Hal itu perlu agar tetap bisa mengaplikasikan isi buku tersebut dalam tugas saya, baik saat menerjemahkan maupun dalam konteks pekerjaan lainnya.
Keahlian membaca cepat ini telah menjadi alat yang sangat berguna, tidak hanya dalam menerjemahkan buku seperti Rapid Reading karya Peter Kump, tetapi juga dalam menyerap informasi dengan efisien di berbagai bidang lain.
Dalam perkuliahan Prof. Holten Sion Bahat, pakar metodologi penelitian kuantitatif, saya dua kali diberi kesempatan menjadi asisten dosen. Membawakan topik membaca teks. Di ruang kelas itu, saya belajar satu hal penting: mengajarkan membaca justru memperdalam kesadaran tentang membaca itu sendiri.
Saya melihat bagaimana banyak mahasiswa tersesat bukan karena teksnya sulit, tetapi karena mereka tidak tahu apa yang dicari. Mereka membaca semuanya dengan cara yang sama. Akibatnya lelah. Jenuh. Kehilangan arah. Di situlah saya selalu menekankan bahwa membaca adalah tindakan strategis. Kita harus tahu kapan harus cepat. Kapan harus lambat. Kapan harus berhenti.
Membaca bukan hanya soal teknik. Ia adalah etika. Etika terhadap teks. Terhadap penulis. Terhadap pengetahuan. Membaca cepat tanpa hormat adalah kekerasan. Membaca lambat tanpa tujuan adalah pemborosan. Keseimbangan itulah yang harus dijaga.
Maka ketika saya membaca banyak buku, itu bukan karena saya ingin terlihat produktif. Bukan pula karena saya ingin menumpuk referensi.
Membaca adalah cara saya berdialog dengan dunia. Dengan masa lalu. Dengan pikiran orang lain. Dan seperti setiap dialog yang baik, ia menuntut kesabaran, kecermatan, dan keberanian untuk melepas hal-hal yang tidak perlu.
Membaca, pada akhirnya, bukan soal cepat atau lambat. Ia soal tahu apa yang dicari. Dan tahu kapan harus berhenti.
0 Komentar