Pegiat Literasi Dayak di Jakarta

Pegiat Literasi Dayak di Jakarta
Pegiat Literasi Dayak di Jakarta

Literasi Dayak tidak hadir sebagai peristiwa tiba tiba. Ia bukan ledakan sesaat, melainkan proses panjang yang bertumbuh melalui kesabaran, kegigihan, dan keberanian berpikir.

Sejak dekade 1980 an, benih literasi itu mulai terlihat ketika sejumlah orang Dayak memilih menulis tentang dirinya sendiri. 

Pada ketika itu, menulis bukanlah kebiasaan yang akrab dalam kehidupan sehari hari masyarakat Dayak. Dayak masih iliterat. Belum mengenal budaya lisan. 

Literasi Dayak sebagai Kesadaran yang Bertumbuh Perlahan

Tradisi lisan lebih dominan, sementara buku sering dipandang sebagai benda asing yang datang dari luar ruang hidup kampung.

Namun perubahan sosial tidak dapat dibendung. Pendidikan formal, perjumpaan dengan dunia kota, dan kontak dengan wacana nasional perlahan membuka kesadaran baru. Menulis tidak lagi dilihat sebagai ancaman terhadap tradisi, melainkan sebagai alat untuk menjaga ingatan. 

Literasi menjadi cara untuk memastikan bahwa pengalaman orang Dayak tidak hilang ditelan narasi orang lain.

Di Jakarta, sebagai pusat simbolik pengetahuan dan kekuasaan, sejumlah pegiat literasi Dayak mengambil peran penting. Mereka hidup di antara dua dunia, kampung asal yang sarat memori dan kota besar yang penuh tuntutan intelektual. 

Dari ruang inilah lahir tulisan tulisan yang merefleksikan sejarah, kebudayaan, dan identitas Dayak secara lebih sadar dan kritis. 

Literasi Dayak di Jakarta bukan sekadar aktivitas menulis, tetapi proses pembentukan kesadaran kolektif.

Sejarah Dayak dan Keberanian Membaca Ulang Arsip

Salah satu medan terpenting literasi Dayak adalah sejarah. Selama lebih dari satu abad, sejarah Dayak didominasi oleh catatan kolonial dan laporan penjelajah Eropa. 

Tulisan tulisan itu kerap dianggap sebagai sumber utama, bahkan satu satunya rujukan akademik. Carl Bock, dengan bukunya The Headhunters of Borneo terbit tahun 1881, menjadi contoh paling sering disebut. 

Bock menulis Dayak sebagai objek eksotis, dengan penekanan kuat pada praktik penggal kepala. Seolah itulah inti kebudayaan Dayak. Padahal itu bias. Kesannya sehari dua saja. Sebuah tangkapan orang luar yang sebatas kulit ari sebuah fakta apa adannya. Malangnya, atau celakanya, justru gambara itu yang mencitrakan Dayak di masa lalu. Meski kini sudah berubah, antara lain oleh literasi. Oleh Dayak "menulis dari dalam".

Literasi Dayak kontemporer tidak menolak arsip tersebut, tetapi menempatkannya secara kritis. Arsip kolonial dibaca ulang dengan kesadaran bahwa setiap teks lahir dari posisi kuasa tertentu. 

Apa yang ditulis, apa yang dihilangkan, dan bagaimana suatu kelompok digambarkan, semuanya mencerminkan kepentingan zamannya. Dengan cara ini, literasi Dayak tidak terjebak dalam sikap reaktif, melainkan membangun pembacaan yang dewasa.

Pembuktian ilmiah mengenai asal usul Dayak melalui Situs Gua Niah di MiriSarawak, menjadi tonggak penting. Temuan arkeologi di kawasan itu menunjukkan keberadaan manusia purba di Borneo sejak puluhan ribu tahun lalu. 

Bagi literasi Dayak, data ini bukan sekadar kebanggaan identitas, tetapi dasar ilmiah untuk membangun narasi sejarah yang kokoh. Sejarah Dayak tidak lagi berdiri di atas mitos atau opini, melainkan pada penelitian lintas disiplin.

Dalam konteks dunia yang disebut era post truth, ketika emosi sering mengalahkan fakta, literasi Dayak justru menegaskan pentingnya kerja akademik. Sejarah dijadikan ruang dialog, bukan alat propaganda. 

Dengan demikian, orang Dayak tidak hanya menjadi bahan cerita, tetapi subjek yang aktif menafsirkan masa lalunya.

Buku, Membaca, dan Ekosistem Literasi Dayak

Perubahan besar lainnya terlihat pada cara orang Dayak memandang buku. Jika dahulu buku dianggap simbol kebudayaan asing, kini ia menjadi pusat perhatian dalam berbagai pertemuan. 

Diskusi buku, bedah karya, dan peluncuran tulisan menjadi ruang baru untuk bertukar gagasan. Buku tidak lagi berdiri sendiri, melainkan menjadi simpul perjumpaan antara pengalaman lisan dan tulisan.

Pegiat literasi Dayak di Jakarta memahami bahwa literasi tidak cukup hanya dengan menulis. Ia membutuhkan ekosistem yang sehat. Harga sebuah bacaan, misalnya, menjadi isu penting. 

Membayar buku bukan sekadar transaksi ekonomi, tetapi bentuk penghargaan terhadap kerja intelektual. Kesadaran ini perlahan tumbuh, seiring dengan meningkatnya jumlah penulis dan pembaca Dayak.

Diskursus tentang endorsement buku dan peran acquisition editor menunjukkan kedewasaan literasi Dayak. Profesi tersebut diperkenalkan bukan untuk mengagungkan industri, melainkan untuk memahami bagaimana pengetahuan bergerak dalam sistem penerbitan modern. Dengan memahami proses ini, penulis Dayak tidak lagi berada di posisi pasif, tetapi mampu bernegosiasi secara setara.

Literasi Dayak juga merespons perubahan media. Era media baru membuka ruang luas bagi publikasi digital. Artikel, esai, dan refleksi budaya dapat diakses lintas wilayah. Namun di balik kemudahan itu, muncul tantangan baru, yakni banjir informasi dan dangkalnya membaca. 

Literasi Dayak menempatkan diri sebagai penyeimbang, mendorong membaca yang reflektif dan bertanggung jawab.

Jaringan Persahabatan dan Kebutuhan akan Lembaga

Literasi selalu tumbuh dari relasi manusia. Persahabatan, diskusi panjang, dan kepercayaan menjadi fondasi yang sering tidak terlihat. 

Kisah kisah tentang pertemanan dalam dunia buku memperlihatkan bahwa literasi adalah kerja jangka panjang. Ia tidak dibangun oleh satu dua orang, melainkan oleh jaringan yang saling menguatkan.

Dari jaringan inilah muncul kesadaran akan pentingnya lembaga. Penulis Dayak membutuhkan ruang yang sah untuk bertumbuh, berdiskusi, dan menjaga mutu karya. Gagasan tentang Lembaga Sastera Dayak lahir dari kebutuhan nyata, bukan ambisi simbolik. Lembaga dipahami sebagai alat untuk merawat proses, bukan untuk mengontrol kreativitas.

Apresiasi dari tokoh nasional terhadap geliat literasi Dayak menunjukkan bahwa kerja sunyi ini mulai diperhatikan. Kekaguman tersebut bukan karena romantisme etnik, tetapi karena konsistensi dan kedalaman gagasan. 

Literasi Dayak membuktikan bahwa dari Borneo dapat lahir wacana yang setara dengan pusat pusat pengetahuan lainnya.

Jakarta, dalam konteks ini, menjadi ruang strategis. Ia bukan tujuan akhir, tetapi persimpangan. Dari kota inilah jaringan diperluas, dialog dibangun, dan suara literasi Dayak dipertemukan dengan wacana nasional.

Literasi Dayak sebagai Jalan Pulang dan Jalan Masa Depan

Bagi para pegiat literasi Dayak di Jakarta, menulis bukan sekadar aktivitas intelektual. Ia adalah jalan pulang dan sekaligus jalan masa depan. Jalan pulang berarti kembali pada sejarah, adat, dan ingatan kolektif. 

Jalan masa depan berarti memasuki dunia yang terus berubah, dunia media digital, industri pengetahuan, dan percakapan global.

Tulisan tentang strategi kolonial seperti pengendalian garam di Borneo memperlihatkan bahwa literasi Dayak berani menyentuh isu kekuasaan. Arsip kolonial dibongkar, bukan untuk menyalahkan masa lalu semata, tetapi untuk memahami struktur ketimpangan yang masih berjejak hingga hari ini. 

Pada saat yang sama, literasi Dayak juga berbicara tentang tantangan membaca di era media baru, tentang industri buku, dan tentang tanggung jawab intelektual.

Di tengah hiruk pikuk Jakarta, para pegiat literasi Dayak menjaga nyala kecil bernama tulisan. Nyala itu tidak selalu terlihat, tetapi konsisten. Ia hadir dalam artikel, buku, diskusi, dan kerja reflektif yang terus berlangsung.

Pada akhirnya, literasi Dayak adalah usaha kolektif untuk memastikan bahwa orang Dayak tidak hanya hadir sebagai objek kajian, tetapi sebagai subjek yang berpikir, menulis, dan menentukan arah sejarahnya sendiri. 

Selama literasi dirawat, sejarah tidak akan sepenuhnya ditulis oleh orang lain.

Penulis: Rangkaya Bada

0 Komentar

Type above and press Enter to search.