STT Sehati Malinau Bangun Tradisi Menulis lewat Pelatihan Literasi
![]() |
| Dr. Yansen TP, M.Si. dalam sesi Pelatihan keterampilan menulis di kampus STT Sehati, Malinau. Ist. |
Kali ini bukan upacara, melainkan pelatihan writing skill yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan wisuda. Pelatihan ini menghadirkan empat figur yang akrab dengan dunia literasi: Ketua YPSDM STT Sehati Malinau Dr. Yansen TP, M.Si., serta tiga penulis nasional Masri Sareb Putra, Nugraha, dan Dodi Mawardi.
Tak kurang dari 60 orang hadir sebagai peserta, mulai dari dosen, mahasiswa aktif, hingga para lulusan baru. Ada rasa antusias yang terasa di ruangan: semacam energi baru yang biasanya muncul ketika orang datang dengan keinginan belajar sesuatu yang dekat dengan dirinya. Menulis, bagi sebagian besar peserta, bukan hal asing, tetapi juga bukan keterampilan yang sering dilatih. Karena itu, pelatihan ini terasa istimewa.
Dalam sambutannya, Ketua STT Sehati, Dr. Yulius Daud, M.Th., menegaskan bahwa kampus tengah menata diri untuk menjadi “kampus berbasis literasi.”
“Mutu dan karakter adalah fondasinya,” ujarnya,
“dan lulusan kita harus terampil, melek teknologi, serta bijaksana dalam menggunakannya.”
Kata-kata itu menjadi tanda arah: bahwa literasi bukan sekadar kegiatan pelengkap, tetapi bagian dari proses pembentukan lulusan STT Sehati.
Saat Teori Bertemu Praktik
Pelatihan berlangsung dalam suasana cair dan interaktif. Para pemateri tidak hanya menyampaikan teori, tetapi juga membuka ruang dialog, memberi contoh, dan memancing pertanyaan. Masri Sareb Putra, misalnya, mengajak peserta melihat menulis sebagai aktivitas yang membebaskan pikiran. Nugraha berbagi pengalaman menulis dari lapangan. Dodi Mawardi memberikan kiat teknis mengolah paragraf agar lebih hidup.
Setelah sesi pemaparan, waktunya praktik. Peserta diminta menulis sesuai arahan; sebagian menulis opini singkat, sebagian menulis refleksi pengalaman. Ada yang menulis dengan cepat, ada yang tampak berhenti sejenak untuk memikirkan kalimat pertama. Namun suasana ruang tetap tenang. Semua terlihat tenggelam dalam prosesnya.
Hasil tulisan lalu dipresentasikan dan dinilai. Dari proses singkat itu terlihat satu hal: ternyata semua peserta mampu menuliskan gagasannya dengan cukup baik ketika diberi contoh dan waktu yang jelas. Beberapa tulisan bahkan dinilai kuat dari sisi narasi dan keaslian ide.
Banyak peserta merasa tertantang untuk menulis lagi setelah sesi ini.
“Ternyata menulis itu bisa dipelajari, bukan hanya untuk orang yang berbakat,” ujar salah satu peserta saat sesi penutup.
WAG Literasi sebagai Ruang Belajar Bersama
Pelatihan sehari itu tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat. Menangkap antusiasme peserta, Dr. Yansen TP langsung membuat WhatsApp Group (WAG) Literasi sebagai ruang belajar lanjutan. Grup itu diberi tujuan sederhana tetapi serius: membangun kebiasaan menulis.
Di dalamnya, anggota dapat berbagi tulisan pendek, berdiskusi, atau meminta masukan. Bahkan sejak hari pertama, grup mulai hidup. Ada yang mengirimkan tulisan yang sudah disempurnakan dari hasil pelatihan, ada yang bertanya soal teknik memilih judul, ada pula yang berbagi inspirasi bacaan.
Gagasan lebih besar pun sudah disiapkan: menghasilkan buku bersama ber-ISBN sebagai buah dari kerja kolektif. Jika terwujud, maka pelatihan ini tidak hanya meninggalkan ingatan, tetapi juga karya nyata.
Kegiatan literasi di STT Sehati Malinau ini menunjukkan bahwa budaya menulis dapat tumbuh ketika disemai dengan serius. Sehari setelah wisuda, para lulusan yang sebelumnya merayakan pencapaian akademiknya kini kembali duduk bersama untuk memulai perjalanan baru: perjalanan menjadi penulis yang percaya pada suaranya sendiri.
Dari kampus kecil di Malinau, langkah sederhana itu mungkin menjadi awal dari gerakan literasi yang lebih besar.
Pewarta: Rangkaya Bada

0 Komentar