Sejarah Dayak sebagai Deklarasi Identitas

Buku yang mengabadikan Sejarah Dayak sebagai Konstruksi Sosial
Buku yang mengabadikan Sejarah Dayak sebagai Deklarasi Identitas.

Oleh: Apai Deraman

Pertama kalinya dalam sejarah, riwayat Dayak diteliti, digali, ditulis, dan dipublikasikan secara menyeluruh. 

Buku setebal 442 halaman ini tidak hadir sebagai daftar peristiwa yang tersusun rapi dari masa ke masa. Ia jauh melampaui itu.

Deklarasi Identitas Dayak

Karya ini tampil sebagai Deklarasi Identitas bagi suku bangsa Dayak, suatu pernyataan jati diri yang berakar pada pengalaman sejarah, memori kolektif, dan kebudayaan yang telah hidup berabad-abad.

 Dengan populasi yang kini diperkirakan tidak kurang dari delapan juta jiwa, buku ini menjadi penanda penting bahwa masyarakat Dayak bukan lagi sekadar objek kajian antropologis, melainkan subjek yang berbicara, menafsir, dan menegaskan keberadaannya sendiri.

Inilah tonggak baru dalam penulisan sejarah Dayak. Sebuah upaya yang tidak hanya mencatat masa lalu, tetapi juga merumuskan siapa mereka di masa kini.

Buku ini menawarkan pembacaan baru tentang sejarah Suku Dayak. Ia tidak menempatkan sejarah sebagai deretan peristiwa yang beku, melainkan sebagai konstruksi sosial yang hidup. Penulis menegaskan bahwa sejarah Dayak dibangun melalui interaksi, narasi kolektif, dan tafsir budaya yang terus diperbarui. Mitos, cerita lisan, artefak, hingga ritual diperlakukan bukan sekadar bukti, tetapi sebagai jendela menuju makna yang lebih dalam: bagaimana sebuah masyarakat melihat dunia dan dirinya.

Pendekatan itu membuat buku ini bergerak melampaui kronologi. Ia tidak hanya membicarakan apa yang terjadi, tetapi juga bagaimana orang Dayak memahami pengalaman mereka dari masa ke masa. Dengan demikian, pembaca diajak melihat sejarah Dayak sebagai proses sosial yang dinamis, ruang interpretasi yang melibatkan memori, identitas, dan pergulatan dengan perubahan zaman.

Jejak Asal Usul hingga Pembentukan Identitas Modern

Bagian awal buku mengulas akar keberadaan Dayak di Borneo. Mitologi dan tradisi lisan bersanding dengan bukti arkeologis untuk menelusuri jejak ribuan tahun. Penulis mengingatkan pembaca pada temuan penting dari Gua Niah di Sarawak, yang membuktikan hunian manusia berusia sekitar 40.000 tahun. Artefak batu, tembikar, serta praktik penguburan yang kompleks memperlihatkan kesinambungan budaya sejak masa prasejarah.

Salah satu bagian menarik adalah pembahasan tentang munculnya istilah “Dayak.” Kata itu pertama kali dicatat oleh Hogendorff, kontroleur Banjarmasin, pada 1757. Ia menjadi padanan dari kata “binnenland”, yakni manusia asli dari darat atau pedalaman Borneo. Seiring waktu, istilah ini berkembang menjadi identitas payung bagi puluhan sub-suku Dayak yang memiliki ragam bahasa dan kebudayaan.

Buku ini kemudian masuk pada fase kolonialisme. Penulis menunjukkan bagaimana kolonialisme tidak hanya membawa eksploitasi sumber daya, tetapi juga perubahan besar dalam struktur sosial Dayak. Misi keagamaan, birokrasi kolonial, dan kebijakan administratif menciptakan tata dunia baru yang harus dinegosiasikan masyarakat Dayak.

Salah satu tonggak yang mendapat sorotan khusus adalah Perjanjian Tumbang Anoi 1894. Dalam pertemuan besar itu, para pemimpin adat menyepakati langkah menghentikan perbudakan dan perang antarsuku. Dari momentum inilah penulis melihat lahirnya kesadaran Dayakensis, cikal bakal identitas Dayak modern.

Gerakan Pakat Dayak pada awal abad ke-20 juga dipaparkan sebagai fase penting. Dari organisasi sosial hingga gagasan politik, gerakan ini berkontribusi pada kelahiran Partai Dayak, yang membawa aspirasi Dayak ke panggung nasional.

Memasuki masa kemerdekaan, buku ini menyoroti peran Dayak dalam perjuangan, tetapi juga menyingkap tantangan yang muncul di era Orde Baru: sentralisasi, tekanan asimilasi, serta persoalan tanah adat. Reformasi kemudian digambarkan sebagai titik balik, ketika kesadaran politik dan kultural Dayak tumbuh dan menemukan bentuk baru.

Di bagian akhir, penulis menegaskan bahwa Dayak kini tampil sebagai masyarakat yang resilient. Di tengah modernisasi Borneo, identitas Dayak tidak melemah. Justru semakin kuat, lahir melalui kebanggaan budaya, inovasi sosial, dan partisipasi dalam pembangunan.

Persilangan Teori dan Tradisi

Keistimewaan buku ini terletak pada fondasi teorinya. Peter L. Berger dan Thomas Luckmann memberi landasan tentang konstruksi realitas sosial. Sementara itu, hermeneutika Hans-Georg Gadamer membuka ruang bagi tafsir budaya yang tidak linier. Pendekatan interdisipliner ini membuat pembaca tidak sekadar memahami sejarah Dayak, tetapi juga proses bagaimana sejarah itu dimaknai.

Penulis memperkaya analisis dengan kajian linguistik, antropologi, hingga sejarah kolonial. Sumber akademik yang luas disajikan tanpa membebani, tetap ramah bagi pembaca umum namun memadai untuk pembaca akademik.

Pada akhirnya, buku ini bukan hanya rekaman sejarah. Ia adalah undangan untuk memahami bagaimana masyarakat Dayak menghidupkan ingatan melalui cerita, ritual, dan praktik budaya yang diwariskan lintas generasi. Sebuah kontribusi penting bagi studi Dayak dan bagi siapa pun yang ingin memahami Borneo dengan lebih jernih.

Buku ini meneguhkan satu hal: sejarah Dayak bukan hanya apa yang tercatat, tetapi apa yang terus ditafsirkan. Sebuah perjalanan yang tak pernah berhenti.

Di mana dapat memesannya?

ANYARMART +62 812-8774-3789

0 Komentar

Type above and press Enter to search.